| Liputan6.com, Jakarta - Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno melontarkan isu terkait ketahanan pangan dan harga bahan pokok. Sebagai parameter, Sandi membandingkan harga sepiring makan siang di Jakarta yang disebutnya lebih mahal ketimbang di Singapura. Namun Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut jika inflasi di Jakarta sebenarnya cenderung stabil. Bahkan pada September 2018, Ibu Kota mengalami deflasi sebesar 0,13 persen. "Deflasi terkait ayam 0,11 persen, daging sapi 0,01 persen, juga ikan-ikanan bawal, gurame, lele juga deflasi. Deflasi terkuat dari ikan-ikananItu informasi terkini, yang terjadi di September," ujar Direktur Statistik Harga BPS Nurul Hasanudin saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, Selasa (9/10/2018). Sementara untuk makanan jadi, lanjut dia, juga cenderung stabil, baik untuk jenis makanan lokal maupun asal negara lain. "Ayam goreng stabil, ayam bakar stabil, gado-gado stabil, umumnya stabil, nasi lauk stabil, sate stabil. Telur asin naik. Memang tidak bisa secara langsung angka inflasi merepresntasikan satu komoditas. Makanan Jepang stabil, fuyunghai juga stabil," ungkap dia. Meski demikian, kata Nurul, pembentukan indikator harga tersebut bukan hanya berdasarkan 1 item komoditas, melainkan terdiri dari 895 item. Oleh sebab itu, untuk menentukan apakah harga makan siang di Jakarta murah atau mahal harus dilihat lebih. "Memang kita perlu memahami bahwa untuk membangun indikator inflasi tidak hanya dari 1 komoditas tapi 895 komoditas. Untuk makanan jadi ada lebih dari 100 komoditas seperti lauk, bakso. Itu tidak bisa dibandingkan apple to apple. Ketika deflasi ikan, beras inflasi, ketika kita agregatkan itu menjadi deflasi," tandas dia. * Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini. Let's block ads! (Why?) October 09, 2018 at 09:45AM via Berita Hari Ini, Kabar Harian Terbaru Terkini Indonesia - Liputan6.com https://ift.tt/2NwYUIG |
No comments:
Post a Comment